Timor Leste - They don't really care about us...

SYURADIKARA

Wednesday, February 9, 2011

YOM KIPPUR

Timur Tengah
Suara sirine bahaya serangan udara melengkik mengejutkan orang2. Ketika mendengar lengkingan pertama, biasanya orang2 sukar mempercayainya. Di Kairo, minggu lalu, suara sirine menembus pasar atau obrolan para wanita berjilbab di sepanjang tepi sungai Nil yang berlumpur. Semalam sebelumnya, Presiden Gamal Abdel Nasser telah mengucapkan selamat datang kepada Irak untuk bergabung bersama sekutu Mesir dan Yordania melawan Israel. Presiden Gamal berkata, “Kami sangat ingin berperang untuk untuk membangunkan musuh dari mimpinya dan menghadapi ancaman Arab muka dengan muka.” Karena terbiasa dengan kegiatan sehari-hari mereka, masyarakat kota Kairo hanya mendengarkan suara sirine sebentar sebelum kembali melakukan kerjaan mereka.
Di Tel Aviv, kota terbesar Israel, reaksi masyarakat juga sama – tapi dengan alasan yang lebih baik. Beberapa hari sebelumnya, Menteri Pertahanan yang baru yang bernama Moshe Dayan, sang “Pahlawan Sinai” bermata satu, berkata bahwa belum tiba saatnya untuk menyerang kekuataan2 Arab yang berkumpul di sepanjang perbatasan Israel. “Kalau tidak terlalu awal atau terlalu terlambat,” katanya. “Pilihan kita adalah menyerang seketika dan tunggu dan lihat apa hasil diplomasi.” Karena pilihan terbaik adalah menunggu dan melihat, maka ketika terdengar suara sirine, kebanyakan penduduk Tel-Aviv mengira ini hanya latihan belaka.
Tapi kali ini bukan latihan. Dalam suatu serangan udara yang mengejutkan di seluruh muka dunia Arab, jet2 Israesl menghancurkan seluruh kekuatan udara militer Arab - dan ini dengan sendirinya memusnahkan kemungkinan tentara Arab untuk menang perang. Tanpa perlindungan udara, tank2 dan pasukan angkatan darat di bawah langit yang cerah di padang pasir akan jadi sasaran serangan udara yang empuk. Dalam waktu beberapa jam saja, jet2 Israel meluncurkan bom2 yang tepat sasaran dan memusnahkan seluruh bantuan jet2 militer Rusia yang mahal yang disumbangkan selama sepuluh tahun bagi dunia Arab.
Hampir Tidak Pernah Meleset


Serangan udara Israel di bandar udara negara Arab.
Gelombang pertama serangan udara Israel Mirage 3 muncul di waktu subuh, dan dalam waktu bersamaan mereka menghancurkan empat lapangan terbang di Jazirah Sinai. Di situlah tempat Presiden Nasser dari Mesir menghimpun kekuatan besar untuk melawan Israel sejak sebulan sebelumnya. Sekitar 200 pesawat Nasser yang utama, kebanyakan adalah MIG 21 buatan Rusia, terperangkap dan dihancurkan saat itu juga. Hampir di saat yang sama, jet2 Israel membom basis militer Arab di Yordania, Syria, dan Irak. Mereka menyerang dari laut untuk membom basis2 militer Mesir masuk ke dalam daerah Mesir; dan setelah mendarat hanya untuk mengisi bahan bakar, mereka kembali membom sampai 25 lapangan militer Arab yang terutama tertutup asap. Pilot2 Israel begitu mahir sehingga mereka hampir tidak pernah meleset menembak sasaran dengan bom, roket, atau peluru. Foto2 udara serangan menunjukkan begitu banyak pesawat musuh yang hancur dan terbakar – dan hampir tidak ada lubang bekas bom di landasan atau gunungan pasir di sekitar target.
Sampai malam Senin, yang adalah akhir hari pertama perang, sekitar 400 pesawat terbang lima negara2 Arab telah dimusnahkan. Mesir kehilangan 300, Syria 60, Yordania 35, Irak 15, Lebanon 1. Israel sendiri hanya kehilangan 19 pesawat dan pilot, kebanyakan jatuh oleh tembakan2 dari darat.
Begitu banyak pesawat2 terbang Arab terjebak di tempat parkir mereka sendiri, karena pesawat2 itu diparkir berdempetan, ujung sayap satu pesawat mengenai ujung sayap pesawat yang lain. Hal ini membuat pihak Israel dengan mudah menghancurkan semuanya dengan serangan pertama saja. Para negara Arab yang kaget menyatakan hal itu dan pihak Moskow sangat marah. Tapi, seperti yang dikatakan pihak Israel pada mulanya, pesawat2 jet Yahudi hanya menyerang setelah radar peringatan menangkap adanya serangan udara pesawat2 jet Arab yang langsung menuju Israel. Pada waktu yang sama, sejumlah besar tentara Mesir dilaporkan bergerak dari basis militernya di El Arih menuju perbatasan Israel.
Ahli sejarah terus berdebat selama bertahun-tahun untuk menentukan siapa sebenarnya yang menembakkan peluru pertama atau menjatuhkan bom pertama. Tapi kemenangan luar biasa Israel has rendered the question largely academic. Sejak Israel berdiri 19 tahun yang lalu, pihak Arab sudah sangat ingin menyerang dan menghancurkannya. Dalam beberapa bulan terakhir sebelumnya, Nasser untuk pertama kalinya berhasil menggalang kekuatan tentara2 Arab untuk bersama-sama menghancurkan Israel. Dia menggerakkan 80.000 tentara Mesir dan persenjataannya ke Sinai dan berhenti di batas yang ditentukan PBB yang memisahkan kedua pihak musuh selama sepuluh tahun. Jumlah penduduk Arab 110.000.000 sangatlah besar dibandingkan penduduk Israel yang hanya 2.700.000. Dapat dimengerti jika pihak Israel gelisah ingin segera menarik pelatuk senjata. Ketika Nasser bergerak mendekat Teluk Aqaba, pertempuran sudah jelas tidak dapat dihindari.
Kematian di Zagagig
Bukan sirine serangan udara tapi justru radiolah yang mengumumkan keadaan perang yang sebenarnya bagi masyarakat di dua belah pihak. Satu jam penuh setelah sirine pertama mengaung dan empat jam setelah penyerangan, Radio Mesir sibuk mengabarkan penyerangan udara Israel, dan memutar lagu2 perjuangan dan pembicaraan militer mulai berlangsung. “Orang2 kita sudah menunggu 20 tahun akan terjadinya perang ini,” kata Kairo, “Sekarang mereka akan menghajar Israel dengan kematian! Tentara Arab akan menyerbu Israel!”
Berita2 perang hari pertama penuh salah laporan tentang kemenangan, termasuk kabar 86 pesawat Israel ditembak jatuh. Setiap ada berita gembira baru yang salah, orang2 Kairo yang berkumpul di sekitar radio2 di setiap sudut jalan akan bersorak gembira dan berdansa. Mereka meneriakkan kata2 “Kami akan lawan, kami akan lawan, Nasser yang tercinta; kami berbaris di belakangmu menuju Tel Aviv!”
Setiap saat asap hitam ledakan tembakan anti serangan udara terlihat di kejauhan, orang2 mengamati truk2 yang bergerak menuju kejadian, dengan harapan dapat melihat pilot Israel yang tertangkap. Radio Kairo melaporkan bahwa satu pilot yang pesawatnya ditembak jatuh menodongkan pistolnya pada sekelompok fellahin di delta kota Zagagig; kaum fellahin memotong-motong tubuhnya sampai jadi potongan kecil2 dengan kampak2 mereka. Di malam harinya, ribuan sukarelawan muda yang sadar sekarang mereka berkuasa, terjun ke jalanan dan memaksa seluruh kota Kairo jadi gelap gulita.
Banyak ledakan semangat terjadi di saat2 pertama perang di ibukota2 negara2 Arab. “Bunuh Yahudi!” teriak Radio Baghdad. Komandan tentara Syria menawarkan ramalan perang kepada pirsawan radio bahwa “kami akan menghancurkan Israel dalam waktu empat hari.” Di Damaskus, sekolah2 ditutup, untuk merayakan kemenangan perang dan bukan untuk berlindung dari serangan udara. Anak2 sekolah bernyanyi sambil mengisi karung2 pasir dan meletakkannya di bangunan2 umum. Karena tidak bersiap membangun tempat perlindungan, orang2 Syria cepat2 mengubah dua buah diskotek. Di Beirut, kain2 berwarna biru, zat pewarna sayur dan cat biru cepat habis karena digunakan untuk menutupi lampu2 mereka. Hotel Phoenicia yang baru dan modern mengecat semua jendela2nya di lima tingkat pertama dengan warna biru sehingga sejumlah tamunya dapat menggunakan lampu saat suasana harus gelap pekat.
Truk-Truk Ice Cream


Peta strategi Israel dalam perang 6 hari.
Penduduk Tel Aviv mendengar berita hanya 30 menit setelah sirine serangan udara pertama, saat Radio Kol Israel menghentikan siaran biasa dengan pengumuman bahwa pertempuran sengit mulai berlangsung melawan “kekuatan bersenjata dan udara Mesir yang bergerak menyerang Israel.” Lagu2 rakyat Yahudi dan perjuangan Israel, termasuk lagu The Bridge on the River Kwai, memenuhi udara sampai Menteri Pertahanan Moshe Dayan tiba. Pesannya, seperti pria sejati, singkat dan terus terang, dan disarikan sebagai begini: “Tentara2 Pertahanan Israel, pada hari ini kami menggantungkan harapan dan keamanan padamu.”
Hanya tiga per empat tentara cadangan Israel yang digerakkan ketika perang terjadi. Sekarang radio menyiarkan kode nama unit2 militer tersebut: Cinta akan Zion, Cukur Pendek, Orang Kerja, Jalur Lain, Jendela Terbuka, Kawan2 Baik. Di seluruh negara kecil mungil itu, para pemuda dan orang2 setengah baya berkumpul di jalanan, sebagian adalah tentara, sebagian adalah mufti, yang memanggul kantung2 dan buntalan2 di pundak mereka sewaktu mereka bergerak ke tempat2 aman naik bus.
Bus2 yang biasa dipakai mengantar tentara cadangan ke unit2 militer mereka di medang perang juga diambil dari apa yang ada: truk2 untuk cuci baju, truk2 ice cream, bahkan taxi dan mobil2 pribadi yang bertugas militer darurat sama seperti para pria dan wanita Israel. Semua adalah bagian dari sistem yang sangat teratur dan berfungsi yang diatur oleh Mayor Jendral Dayan antara tahun 1953 dan 1956 ketika dia menjabat sebagai Ketua Angkatan Bersenjata Israel. Setiap tank Israel dikendarai oleh tentara Israel yang seluruhnya berjumlah 50.000 orang. Tank2 itu menunggu di tempat parkir bagi dua atau tiga tentara cadangan yang bersiap mengganti tugas seorang tentara yang bertempur. Tank2 siap maju, lengkap dengan helmet, pisau cukur dan sikat2 gigi. Setiap tentara telah diberitahu sektor2 pertempuran, tempat2 aman, dan sasaran2 perang. Mata2 Israel telah mengincar datangnya tentara musuh Arab di lembah gurun pasir terakhir. Sistem militer Israel bekerja sedemikian baiknya sehingga mampu mengumpulkan kekuatan 235.000 orang dalam waktu 48 jam saja.
Medan perang gurun pasir modern sebenarnya adalah perang antar tank, yang didukung oleh pasukan jalan kaki dan pesawat udara. Di awal perang, baik Israel dan Mesir masing2 punya 1.000 tank. Tank milik Israel kebanyakan buatan Amerika dan Inggris; tank milik Nasser buatan Rusia, sama seperti kebanyakan persenjataannya. Sekitar 800 tank dari masing2 pihak melaju di medan perang di Jazirah Sinai.
Di sinilah, sama seperti sewaktu melakukan serangan udara, taktik2 Israel dilakukan melalui serangan mendadak yang cepat. Ini adalah taktik yang sama yang diterapkan Dayan dalam perangnya di tahun 1956 di Sinai yang membuat tentara Arab kocar-kacir jalan kaki ke rumah dalam waktu 100 jam. “Tentara tidak akan diberi waktu untuk mengatur diri kembali setelah diserang, dan penyerangan dilakukan tiada henti,” begitu ditulisnya di Diary of the Sinai Campaign (Catatan Perang Sinai). “Kami mengatur regu2 kekuatan secara terpisah karena setiap regu punya tugas yang berbeda, dan tugas setiap regu adalah berada di medan perang sambil terus berperang, untuk mendorong, lawan dan dorong, lawan dan dorong, sampai tujuan tercapai.”
Tujuan utama Israel di Sinai minggu lalu juga sama seperti perang yang mereka lakukan di tahun 1956: untuk mematahkan tulang punggung tentara Arab yang sangat banyak yang berkumpul di perbatasan Israel, lalu menyerang dari Selatan dengan cepat untuk merebut Sharm el Sheikh dari ketinggian untuk menguasai Terusan Tiran, lalu menyerang dari Barat sampai tepi Terusan Suez, menjebak sisa2 tentara2 Mesir. Tiada seorang pun yang mengira perang akan berlangsung secepat itu. Terdengar kabar bahwa dengan bantuan Rusia, Nasser memperbaiki daya kekuatan militernya jadi sangat baik. Selain itu, dia juga punya Catatan Perang Sinai 1956 yang ditulis Dayan yang menjabarkan keterangan rinci yang tepat tentang taktik2 dan strategi perang Israel. Buku itu bahkan mencantumkan kritik terhadap hal yang dulu salah dilakukan oleh tentara Israel dan Mesir.
Tapi sudah jelas Nasser tidak membaca buku Dayan itu; dia pun juga tidak belajar buku karangan Santayana yang menyatakan “mereka yang tidak bisa mengingat masa lalu maka akan mengulangi kesalahan yang sama.” Dengan bergerak meluncur di jalan yang sama, menyerang dan mengalahkan posisi2 tentara Mesir yang sama, tentara Israel mengulang kembali hal yang hampir persis sama yang dulu mereka lakukan di tahun 1956 – satu2nya perbedaan adalah kali ini tentara Israel berhasil melaksanakan tugas separuh waktu lebih cepat.
Dari Kerem Shalom di sebelah utara sampai El Kuntilla di sebelah selatan, tank2 Centurion milik Israel yang penuh dengan persenjataan, ditambah konvoi tentara darat berseragam warga coklat gurun pasir, menyerang dari Negev ke Sinai di bawah sinar matahari pagi yang terik. Di beberapa tempat, tentara2 Mesir sudah membangun benteng2 di sepanjang perbatasan Israel. Tapi tentara2 Israel bekerja sama satu sama lain untuk mengusir mereka pergi. Ketika tentara2 Israel di darat mendorong tentara Mesir mundur, jet2 Israel beraksi di angkasa sama sekali tak terlawan, dan menjatuhkan bom2 dan roket sesuka hati. Dalam waktu dua hari, tentara Israel berhasil melumpuhkan atau menyita 200 tank milik Nasser dan masuk jauh ke daerah Sinai. Mereka juga menguasai Jalur Gaza tempat di mana persenjataan Mesir disimpan dan terdapat barak2 yang tidak terurus yang dihuni Palestinian Liberation Army (Tentara Kemerdekaan Palestina) yang buas. Tentara2 Israel tidak membuang waktu menghabisi tentara2 dan teroris2 Arab terkuat, lalu memenjarakan mereka di gurun pasir Negev.
Untuk peperangan ini, Moshe Dayan khusus dilantik jadi Menteri Pertahanan Israel. Dia menjabat kedudukan ini selama enam hari setelah dilantik PM Levi Eshkol. Keduanya sebenarnya menganggap pelantikan resmi itu tidak perlu diadakan. Negara Israel sedang berjuang untuk kelangsungan hidupnya, dan jenderal bermata satu itu sudah jelas merupakan pilihan utama dan satu2nya bagi Israel.
Dayan adalah Israel itu sendiri. Dia lahir pada tanggal 20 Mei, 1915, di saat kibbutz (daerah penduduk) pertama Yahudi didirikan di Palestina. Ketika berusia tujuh tahun, orangtuanya yang berimigrasi dari Rusia pindah ke moshav, tempat pertanian di sana. Tidak seperti sebuah kibbutz, anggota masyarakat bisa memiliki tanah sendiri di moshav. Moshe suka bertani dan baca buku, tapi tak lama kemudian dia mempelajari teknik perang pula. Tentara Inggris memenjarakannya di tahun 1939 karena dia ikut perkumpulan tentara Yahudi bawah tanah bernama Haganah.
Dia dibebaskan dua tahun kemudian untuk bekerja sebagai pandu tentara2 Australia melawan tentara Perancis Vichy di Syria. Di saat tembak2an berlangsung, sebuah peluru menerpa kacamatanya ke samping kiri wajahnya dan merusakkan sebuah matanya. Sejak itu dia menutup mata rusak itu dengan tutup mata hitam gaya Hathaway. Meskipun telah terluka, Dayan tetap kembali ke medan perang, memimpin tentara2 Haganah di tahun 1948. Tak lama kemudian, dia memimpin tentara bagian depan Yerusalem dalam pertempuran pertama Israel melawan tentara Arab. Di tahun 1953, dia menjabat sebagai komandan Angkatan Bersenjata, dan dia mengajarkan tentara Israel filosofi perangnya yang tanpa kompromi – serangan kilat yang dilakukan dengan tiba2 dan malam hari – teknik inilah yang membuatnya menang di tahun 1956 dan juga minggu lalu (akhir Perang Enam Hari).
Hanya setahun kemudian, dia pensiun untuk belajar tentang politik. Dia bergabung dalam Kabinet Ben-Gurion sebagai Menteri Pertanian. Di bidang ini pun dia terbukti tangguh sama seperti di bidang militer. Meskipun mendapat perlawanan hebat, dia membubarkan perkumpulan pemasok susu sapi yang besar, karena dianggapnya tidak beroperasi bagi keperluan negara yang terbaik. Karirnya semakin menanjak. Tapi kemudian Ben-Gurion mengundurkan diri dan meninggalkan partai Mapai yang berkuasa. Dayan pun mengikuti langkahnya. Dia jadi anggota Knesset dari partai Rafi yang merupakan pecahan partai yang dulu dipimpin Ben-Gurion.
Moshe Dayan adalah orang yang sangat berdikari, terus terang dalam mengeluarkan pendapat, dan dia mencapai sukses dalam pekerjaan apapun yang dicobanya. Tapi jabatannya di bidang pertanian adalah yang paling disukainya. Karena adanya perang, dia lalu mengenakan kembali seragam militernya dengan penuh percaya diri. Jika ada yang dikeluhkannya, itu adalah tugas2 administratif di atas meja kantornya sebagai Menteri Pertahanan yang membuatnya tidak bisa menghabiskan banyak waktu dengan tentara2nya. Terlalu banyak surat2 administratif yang harus dikerjakannya di bunker komandan di Yerusalem. Meskipun begitu, setidaknya sehari sekali dia akan naik kendaraan atau terbang dengan helikopter untuk memeriksa keadaan perang. Dia ingin melihat sendiri bahwa semua aspek perang dilaksanakan dengan benar. Saat ini, Israel sudah masuk jauh ke dataran Sinai.


Moshe Dayan, komandan perang Israel dalam perang 6 hari 1967.
Pada jam 11 siang di hari pertama perang, atas permintaan tolong dari Nasser, Yordania membuka medan perang kedua. Tembakan2 mortir dan peluru2 dilancarkan dari ketinggian2 Yerusalem Arab untuk mengacaukan daerah Yerusalem yang dikuasai Israel. Senjata2 jarak jauh berhasil melontarkan peluru sampai masuk ke tengah2 kota Tel Aviv. Senjata2 Syria juga menembaki bagian utara kota2 Israel yang terbuka dari bukit2 dekat Laut Galilea. Tapi kota Yerusalemlah yang paling rusak karena serangan Arab. Selama dua hari penuh penduduk kota dihujani tembakan2 tanpa henti dan mereka berlindung di barak2 bawah tanah. Meskipun kebanyakan sudah berlindung, tetap saja 500 orang tewas dan terluka akibat serangan Yordania.
Tiada kota Israel yang tidak diserang. Bom2 hampir menerjang rumah PM Eshkol dan taman Hotel Raja Daud. Jendela2 kaca Museum Israel pecah berantakan, dan naskah Nabi Yesaya, yang adalah naskah terlengkap dari Naskah2 Lau Mati, cepat2 diamankan ke ruangan bawah tanah. Kebanyakan jendela2 kaca berhiaskan karya seni buatan Chagall di sinagog Pusat Medis Hadassah diturunkan, tapi sebuah jendela keburu hancur. Ini surat yang ditulis Chaggal dari Perancis: “Aku tidak khawatir akan jendela2 itu, tapi aku hanya khawatir akan nasib Israel. Jika Israel sudah aman, akan kubuat jendela2 baru yang lebih indah bagimu.”
Sewaktu petang hari tiba di bukit2 Yudea, tentara2 Israel bergerak menjawab serangan. Jet2 Israel buatan Perancis yang dijuluki Bintang Daud yang warna sayapnya dalah biru putih, menyerbu posisi Yordania di kota Yerusalem dan menghujaninya dengan bom2 spektakuler yang membuat langit jadi lautan merah karena api. Dua kelompok pasukan bersenjata Israel ke luar dan mengitari kota tua Yerusalem. Di dalam tembok2 kuno inilah terdapat tempat2 suci bagi tiga agama besar, dan tentara2 Israel berhati-hati untuk tidak merusak tempat2 itu. Pasukan Israel dari sebelah utara bergerak menuju Gunung Skopus. Pasukan Israel selatan menyerang daerah selatan, bergerak dari bukit ke bukit dengan cepatnya, mengalahkan perlawanan sengit Angkatan Bersenjata Yordania, sampai seluruh kota Yerusalem berhasil dikelilingi.
Di malam berikutnya, komandan2 Israel mempersiapkan serangan subuh dalam kota Yerusalem. Tapi kebanyakan tentara Yordania yang berada di situ sudah melarikan diri, yang tinggal hanya seorang penembak jauh ketika sebuah kelompok tentara Israel masuk melalui pintu gerbang Stefan dan kelompok kedua masuk melalui pintu gerbang Damaskus. Pada jam 10 siang, tentara Israel yang menang berdiri di depan Tembok2 Ratapan, yang merupakan satu2nya tembok yang tersisa dari Bait Allah kedua, dan tembok ini selama 1.897 tahun telah menjadi lambang harapan dan derita Yahudi. Dari semua kemenangan tentara Israel, tiada yang lebih berarti daripada menguasai kembali kota suci Alkitab yakni Yerusalem. Kemenangan ini jauh lebih berarti daripada menguasai banyak daerah Sinai. Kata pemimpin pasukan yang menguasai Yerusalem di dekat Tembok Ratapan: “Tiada seorang pun dari kita yang telah melihat dan melakukan hal yang begitu besar seperti yang telah kita lakukan hari ini.” Dan dekat tembok itu, dia menjatuhkan diri dan menangis.
Catatan-Catatan Menarik


Perayaan kemenangan tentara Israel dalam perang 6 hari.
Satu per satu, kota2 lain yang tertulis dalam Alkitab jatuh ke tangan Israel: Yerikho, Hebron, Betlehem. Penyerangan terus dilakukan sampai tentara Israel menguasai seluruh daerah barat Sungai Yordania yang dulu dikuasai kerajaan Raja Hussein dan juga Laut Mati. Tidak seperti saudara2 mereka yakni tentara Mesir di Sinai, tentara2 Raja Hussein berperang dengan penuh tekad dan disiplin tinggi. Tapi sama seperti di Sinai, di sinipun tentara2 Israel yang jauh lebih unggul di udara mengakibatkan kekalahan telak pasukan Arab. Sepanjang hari jet2 Israel menukik tajam untuk menjatuhkan bom2 dan selongsong2 napalm pada kesatuan militer Yordania yang bertahan sengit. Karena tidak tahu akan kekalahan tentara Mesir, maka Hussein sukar percaya bahwa pasukan Israel sendiri saja dapat membuat langit di atas daerah depan Yordania begitu hitam pekat. Karenanya dapat dimengerti bahwa sama seperti yang dikatakan Nasser bahwa pesawat2 tempur A.S. dan Inggris telah datang membantu pesawat2 Israel.
Nasser tentunya jauh lebih tahu. Tapi dia terdesak berat untuk cari alasan kekalahan telak Arab. Tampaknya dia berharap dengan masuknya tentara A.S. dan Inggris, maka Moskow pun akan datang menolongnya. Tapi tiada harapan bagi Nasser. Pesawat2 Rusia yang memonitor gerakan2 udara A.S. di Timur Tengah tahu bahwa radar mereka tidak menunjukkan bukti apapun bahwa pesawat2 A.S. dan Inggris terlibat perang. Duta Besar Rusia di Kairo mendatangi Nasser dan dengan jelas mengatakannya begitu. Karena sudah kepalang basah, maka Nasser pun terus saja berbohong besar, dan ini mengakibatkan pecahnya hubungan diplomasi ketujuh negara2 Arab dengan A.S. dan mengakibatkan demonstrasi2 di kedubes2 A.S. dan Inggris di seluruh dunia Arab.
Bagaimana Nasser mendesak Hussein untuk mendukung kisah bohongnya lewat telpon telah menjadi satu catatan sejarah yang menarik. Israel memonitor dan merekam percakapan radio antara Nasser dan Hussein di hari kedua perang, dan menyiarkan percakapan ini dua hari kemudian. Suara yang terekam sudah jelas milik Nasser dan Hussein; tidak perlu disangkal lagi. Ini contoh percakapan mereka: Nasser: Hello – apakah kita akan katakan A.S. dan Inggris atau hanya A.S.? Hussein: A.S. dan Inggris Nasser: Apakah Inggris punya kapal induk? Hussein: (jawabannya tidak jelas) Nasser: Demi Tuhan, kukatakan aku akan membuat pengumuman dan kau juga membuat pengumuman dan kita akan lihat pula bahwa Syria akan membuat pengumuman bahwa pesawat2 Amerika dan Inggris mengambil bagian menyerang kita dari kapal2 induk mereka. Kita akan tekankan hal ini, dan kita sampaikan hal ini di negara2 kita.
Tapi setelah itu, Hussein akhirnya mengakuti bahwa “payung gelap besar” yang menutupi Yordania ternyata hasil dari pesawat2 Israel saja. Akan tetapi Nasser, tetap bersiteguh dengan kisah karangannya sampai di hari matinya. Dia tetap mengatakan “pesawat2 berjumlah tiga kali lebih banyak” daripada yang dimiiliki Israel dan menyerang kekuatan militer Arab.
Tentara-Tentara yang Kecewa
Di sebelah selatan Israel, tentara2 Nasser menghadapi kesulitan untuk terus bertempur. Di saat malam Rabu, yang merupakan hari ketiga perang, semua tentara Israel sudah merasakan kemenangan yang bakal terjadi. Bawahan Dayan yang menjabat sebagai Komandan Angkatan Bersenjata yakni Yitzhak Rabin menyarikan hal ini secara tepat: “Kita telah menghancurkan hampir seluruh kekuatan tentara Mesir, memberikan pukulan telak pada pasukan Yordania, menguasai daerah2 penting Jazirah Sinai dan Tepi Barat Yordania, dan kita telah hancurkan hampir seluruh kekuatan angkatan udara keempat negara Arab.” Para pasukan terjun payung Israel yang masih muda dengan penuh semangat bersiap untuk terjun ke atas Sharm el Sheikh, tapi mereka diberitahu bahwa pasukan angkatan laut telah tiba terlebih dahulu dan pasukan Mesir sudah melarikan diri. Pasukan terjun payung yang kecewa diterjunkan bagaikan turis2 pendatang di daerah perbatasan Mesir yang telah ditinggalkan.
Keesokan hari, tentara2 Israel telah menguasai Tepi Barat Terusan Suez. Yordania mundur dan menerima keputusan gencatan senjata PBB yang telah diajukan Moskow dengan susah payah selama tiga hari untuk menyelamatkan negara2 Arab dari kehancuran total. Tentara2 tank Mesir bertempur di medan terakhir di Suez sebagai usaha panik untuk membuka jalur mengundurkan diri bagi 80.000 tentaranya di Sinai. Tapi mereka pun akhirnya setuju untuk meletakkan senjata. Beberapa jam kemudian, Syria pun melakukan hal yang sama.
Tapi ternyata Syria tidak sepenuhnya melakukan gencatan senjata. Yang terjadi kemudian adalah baik Israel dan Syria mengaku pihak lawan melanggar gencatan senjata. Israel dengan marah berpaling ke Syria telah melakukan serangan2 teror dan dulu membujuk Nasser untuk berperang. Meskipun dataran Syria berbukit-bukit, tapi tentara Israel berhasil memukul mundur tentara Syria sampai 15 mil dari perbatasan Syria. Tank2 dan pesawat2 terbang Israel bertempur total sampai daerah2 sekitar Damaskus.
Versi Bahasa Ibrani


Prajurit Israel menangis haru di tembok ratapan.
Kairo menerima berita gencatan senjata dengan rasa kaget dan bisu seribu bahasa. Sejumlah polisi cadangan bersiap-siap di tempat2 penting, tapi tiada seorangpun yang ingin berdemonstrasi. Polisi bergerak bebas di jalanan kosong dan mencopoti slogan2 dan bendera2 anti Israel yang dipajang di kota ketika Nasser mengumpulkan kekuatan militer bulan lalu. Dari semua sekutu Arab, hanya Aljeria saja yang bersumpah untuk terus berperang. Ini tentunya karena Aljeria belum berperang sama sekali dan letaknya jauh dari serangan maut Israel. Sebelumnya, Aljeria telah mengirim 36 jet MIG kepada Nasser, tapi bantuan itu sangat terlambat.
Suasana di Tel Aviv sangatlah berbeda. Tiba2 saja kota itu dipenuhi bendera2 biru dan putih, yang melambai di tiang2 tinggi, yang dijatuhkan dari pesawat2 dan mendarat di halaman2 dan membuat lautan warna yang berkilau. Pantai2 dipenuhi orang2 yang merayakan kemenangn; tentara2 yang membersihkan debu gurun pasir di sepatu bootnya. Konser2 musik dan pelayaran perahu2 turis kembali dilaksanakan sesuai jadwal mula.
Pintu gerbang Yerusalem bernama Mandelbaum yang tadinya merupakan gerbang suram ke daerah tak bertuan, sekarang menjadi jalur persimpangan bagi Yahudi2 relijius yang bertopi dan bermantel panjang hitam yang berkumpul untuk menyoraki setiap kendaraan Israel yang ke luar dari Yerusalem. Jawatan bus kota Israel yang masih diliputi perasan sentimental mengoperasikan bus nomer 9 ke Mount Scopus; mereka telah menyimpan nomer itu bagi jalur istimewa yang terakhir dilalui pada tahun 1948. Walikota Yerusalem Teddy Kolleck rapat bersama para pejabat kota untuk menyetujui pengeluaran dana sebesar $50 juta untuk “membangun kembali kota abadi Yerusalem.” Sama seperti Dayan dan Eshkol dan setiap orang Israel yang bisa datang, Ben-Gurioun juga datang menjenguk Tembok Ratapan. “Inilah adalah saat terbesar dalam hidupku,” katanya, lalu mukanya berkerut karena melihat nama Yordania di tembok ditulis dalam bahasa Inggris dan Arab. Dia minta tentara menurunkan nama itu dan menggantinya dengan bahasa Ibrani.
Tiada Ijin Membantu


Pertama kalinya bendera Israel berkibar di tembok ratapan.
Meskipun awalnya tujuan perang bagi Eshkol bukanlah untuk memperluas kekuasan, tapi hasil kemenangan Israel telah mengubah tujuan awal. Dayan sendiri berkata di kota tua Yerusalem: “Kami telah kembali ke tempat tersuci kami, dan tidak akan pernah meninggalkannya.” Dia juga tidak perlu menerangkan bahwa Israel tidak akan membiarkan Sharm el Sheikh kembali jatuh ke tangan2 Arab untuk memungkinkan penyerangan baru Arab dari Selat Aqaba. Sudah jelas pula bahwa dengan merebut daerah Galilea sepenuhnya dari tangan Syria maka Arab tidak dapat mengancam menutup suplai air dari Yordania. Dengan menguasai daerah barat Terusan Suez, kapal2 Israel dapat berlabuh bebas dan jalur ini dulu ditutup oleh Nasser sejak tahun 1956.
Kemenangan yang dicapai terjadi sangat cepat sehingga bahkan Dayan dan pembantu2nya kaget (“Kukira perang akan masih berlangsung satu atau dua hari lagi,” kata Kepala Angkatan Bersenjata Rabin). Awalnya pihak Israel tidak yakin apa yang harus dilakukan terhadap daerah2 yang dirampas. Mereka memang tidak punya waktu menghitung hasil perang mereka atau menghitung kekalahan Arab. Tidak dapat dipastikan dengan tepat berapa banyak yang mati, tapi perang beberapa hari di padang pasir ini memakan korban lebih banyak dari setahun perang di Vietnam. Para sejarawan menghabiskan banyak waktu menghitung hancurnya harga diri dan semangat bangsa2 Arab, belum lagi rasa malu luar biasa yang diderita Rusia yang berdiri ternganga tak berdaya melihat bantuan militernya yang mahal bagi Arab dihancurkan berkeping-keping sampai jadi debu oleh Israel. Dari benda2 perang yang berhasil disita terdapat misil2 SAM buatan Rusia.
Satu hal yang jelas adalah untuk beberapa saat, Israel menjadi kekuatan militer mutlak di Timur Tengah. Israel tidak perlu diperintah siapapun, dapat menentukan tujuan dan keinginan negaranya, terlepas dari tekanan PBB dan Arab yang tidak mampu berbuat apapun.
Apakah yang membuat Israel menang sedemikian besar sedemikian cepat? Jawabn utama dapat dilihat dari rencana perang, koordinasi, dan komunikasi militer Arab yang berantakan. Sejak dikalahkan Israel dengan cepat di tahun 1956, negara2 Arab berharap perang baru akan berlangsung lama. Meskipun dua skuadron MIG-21 dari Aljeria datang membantu, tapi mereka terlambat 24 jam karena komandan2 tempur Mesir gagal memberi keterangan di lapangan udara mana mereka harus menuju. Sebenarnya, nasib mereka akan lebih buruk jika tiba di saat jet2 Israel menyerang. Lima pasukan angkatan udara Maroko tiba di Kairo, tapi lima lainnya terhenti di Lybia karena Mesir belum memberi ijin masuk daerah Mesir. Lebih dari 100 truk Aljeria penuh pasukan menyeberangi selatan Tunisia menuju Sinai, yang sudah lama terlebih dahulu ditaklukkan Israel sebelum mereka datang. Tentara Tunisia yang sudah siap maju berperang bagi Nasser ternyata juga tidak pernah dapat panggilan dari Kairo.
Bait Allah Ketiga
Meskipun hancurnya angkatan udara Arab berperan besar dalam hasil perang, penampilan tentara Arab di medan perang juga sangat jelek. Pelatih2 militer Rusia mereka ternyata bukan orang2 ahli dan lebih jago bicara daripada pegang senjata. Dari seluruh tentara2 Arab, hanya tentara Yordania saja yang mampu berperang dan mereka pun banyak yang tewas. Hussein menyebut 15.000 tentara Yordania yang mati sebagai “kehilangan besar.” Lebanon tidak menembakkan sebuah peluru pun pada Israel dalam seluruh kejadian perang. Tentara Lebanon yang berjaga-jaga di perbatasan malahan bermain backgammon (mirip catur) dan menonton tentara Syria dan Israel saling menembak. Meskipun tadinya ribut berteriak-teriak, ternyata tentara angkatan darat Syria tidak bisa banyak membantu tentara Yordania dan Mesir. Beberapa pilot Arab sempat melepaskan beberapa tembakan untuk menunjukkan kemampuan mereka; tapi kemampuan mereka tidak sebanding dengan pilot2 Israel. Pilot2 Israel menembak jatuh 20 pesawat dan pilot Arab dan mereka hanya kehilangan tiga pesawat. Komunikasi Arab di medan perang begitu jelek sehingga tak lama kemudian Mesir mengurangi mengirim pesan kepada tentara2nya di Sinai melalui Radio Kairo. Akibatnya, komandan2 tempur Arab tidak bisa kontak berita dua arah dengan seluruh pasukan mereka.
Dari segala faktor di atas, kesimpulan akhir menunjukkan bahwa kemampuan militer Israel yang luar biasa, taktik dan waktu mereka yang tepat, profesionalisme dalam kemampuan bela diri mereka yang membuat Arab kalah telak merupakan pelajaran klasik yang layak dipelajari dengan rasa kagum oleh seluruh pendidikan militer di seluruh dunia. Selain hal itu, hal utama lainnya adalah dedikasi bela diri Yahudi yang ditempa ribuan tahun penjajahan dan penindasan dan juga tekad mereka yang begitu teguh agar Israel mampu selamat sebagai negara mandiri. “Setiap orang Israel berperang bagi kesatuan kasih, iman, dan negara,” kata Moshe Dayan di akhir minggu. “Jika boleh kukatakan, kami merasa kami berperang untuk mencegah jatuhnya Bait Allah yang ketiga.”

No comments:

Post a Comment